DIA SIKUMUH
gadis mungil pecinta hujan. Dibalik lorong kegelapan Dia berlari tanpa henti. Matanya mengerenyit bak ketakutan.
"Hei kamu, gadis kumuh mendekatlah" ucap wanita paruhbaya. Namun si Dia tak menghiraukan sedikitpun terus berlari mengejar dunia antah berantah. Sesak tangis selalu hadir diwajah gadis itu. Hidup sebatang kara lontar-lantur dalam keramaian kota.
Semua orang menanyakan ibunya. Namun tidak pernah ada yang tau termasuk Dia.
Kini umurnya tiga belas tahun seorang perempuan dipinggir jalan. Menjadi seoarang pemulung sudah terbiasa baginya. Bahkan mengemispun sudah dijalani, itu semua karena terpaksa. Dunia hampir tak menghargainya bahkan sudah lupa.
Semua orang hanya memanggil Dia. Bahkan gadis itupun tidak tau siapa dirinya.
Hamparan wajahnya memelas dibawah sinar matahari, itu sebabnya gadis itu menyukai hujan.
Hujan membuat tubuhnya dingin hingga tidak membuatnya merasa lelah.
Bilik yang diteduhi kotak selalu menjadi sandarannya, tempat gadis itu berteduh sepanjang hari.
Dia selalu memimpikan rumah yang nyaman dan mempuanyai keluarga. Setidaknya ada yang menghargainya.
tapi entahlah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar